Ada seorang gadis yang dibesarkan dalam keluarga yang sederhana. Gadis yang diberi nama Abel adalah anak kedua dari tiga bersaudara, perempuan satu-satunya. Abel di didik begitu keras oleh ayahnya sama seperti kakak & adik lelakinya hingga membentuk pribadi yang pendiam, tidak percaya diri dan tidak menyukai keramaian. Dia juga amat membenci laki-laki karena baginya laki-laki hanya makhluk egois, menyebalkan dan penindas kaum hawa. Rasa bencinya terus di bawa sampai ia remaja dimana kawan-kawannya sudah memiliki tambatan hati alias pacar. Abel justru tidak berminat dengan hal berbau pacaran. Bukan karena tak ada lelaki yang menyukainya tapi karena rasa takut & benci yang tak dapat di lenyapkan dari dalam hatinya membuat Abel tidak ingin dekat-dekat atau berhubungan dengan kaum lelaki jadi setiap lelaki yang mendekati Abel hanya ditanggapi dengan cuek dan ketus olehnya. Meski begitu Abel memiliki khayalan yaitu menginginkan cinta sejati layaknya dongeng “cinderella” yang pernah ia tonton di televisi.
Sampai suatu ketika dia bermimpi kalau ia akan menjadi penyuka sesama wanita alias lesbong atau lesbi. Disitu akhirnya ia sadar bahwa rasa bencinya akan berakhir fatal bila tidak segera dikikis. Perlahan Abel mulai mencoba membuka diri, mengenal laki-laki dari sudut pandang yang berbeda dari biasanya. Perlahan justru ia mulai nyaman bergaul dengan laki-laki ketimbang perempuan karena baginya kawan perempuan tidak pernah menolong dengan semaksimal mungkin berbeda sekali dengan lelaki yang akan mengusahakan mati-matian untuk menolong. itu pendapat Abel. Abel berangsur-angsur menjadi gadis yang ceria, tidak lagi menjadi gadis yang tertutup seperti dulu. Di sela wajah juteknya selalu ada senyuman yang tersungging di bibirnya meski begitu pandangannya mengenai lelaki belum juga berubah.
Hingga suatu saat ada telephone yang mengaku sebagai kawan kampus Abel. Abel tidak mengenal lelaki yang menelphonenya kala itu singkatnya mereka berkenalan dan sejak itu Heru, pemuda alim yang dikenalnya lewat telephone yang tidak pernah dilihat wujudnya hampir setiap malam selalu menelphone Abel dan saling bercerita layaknya kawan lama. Entah mengapa malam itu Abel menggigil dan keringatnya mengucur deras, seluruh badannya panas dingin mendengar suara Heru diujung telephone. Degup jantungnya tak beraturan hingga Abel pikir kalau ia terkena serangan jantung tetapi bukan. Bukan serangan jantung.
Ini pertama kali ia merasa yang demikian. Dan setelah itu Abel baru menyadari bahwa setiap ia berbicara dengan Heru maka ia akan merasa tak karuan. “inikah rasanya cinta”, pikir Abel sambil melamun tetapi lamunannya dikejutkan oleh dering telephone. Ternyata telephone tersebut dari Eka kawan kampusnya yang mangajaknya jalan-jalan tanpa pikir panjang Abel mengiyakan saja karena pikirannya yang sumpek memikirkan laki-laki yang misterus. Bersambung…
Ini pertama kali ia merasa yang demikian. Dan setelah itu Abel baru menyadari bahwa setiap ia berbicara dengan Heru maka ia akan merasa tak karuan. “inikah rasanya cinta”, pikir Abel sambil melamun tetapi lamunannya dikejutkan oleh dering telephone. Ternyata telephone tersebut dari Eka kawan kampusnya yang mangajaknya
Mustofa Ari berkata,
Mei 26, 2009 pada 8:54 am
cinta memang datangnya tak bisa ditebak, bisa hari ini ato besok ato mungkin lusa. Seperti itulah cinta. Cinta memang buta tak megenal kasta bahkan wajah.
Buat sang penulis critanya bagus tapi ini tidak bisa dikategorika cerpen karena masih memiliki sambengan, jadi ini masuk ke dalam golongan cerber ato cerita bersambung.
Fanani berkata,
Mei 27, 2009 pada 4:46 am
ceritanya bagus juga. apalagi pemotongan ceritanya itu, membuat orang bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya…
ngga sabar nunggu lanjutannya…