Setelah hampir seharian Abel berjalan-jalan di salah satu pusat perbelanjaan bersama Eka kawan satu kampusnya, Abel memutuskan untuk segera pulang karena kakinya yang sudah tak karuan rasanya. Abel sebenarnya kurang suka pergi shopping, tak seperti wanita kebanyakan karena tau sendiri kaum hawa kalau sudah shopping lamanya minta ampun dan bikin kaki pegal-pegal tapi karena Abel sedang sumpek tak ada pilihan lain baginya. Eka membujuk Abel untuk makan dulu sebelum pulang ke rumah, berhubung cacing-cacing yang ada di perut Abel sudah mulai berteriak-teriak maka mereka sepakat untuk makan di salah satu restoran Amerika.
Sejak mereka memutuskan untuk makan sebelum pulang diperhatikannya Eka tak pernah berhenti menatap lekat handphone kesayangannya. Tiba-tiba ada sesosok pria yang menghampiri kami kemudian menyapa Eka. Mereka bercakap-cakap layaknya kawan akrab tak lama kemudian Eka memperkenalkan kawannya kepada Abel.
Wajah Abel pucat, matanya terbelalak dan degup jantungnya tak karuan mendengar nama yang disebut laki-laki itu, Heru… ya laki-laki yang selalu menelphonenya setiap malam. Dialah Heru, pria yang selama ini diam-diam dicintai Abel karena kealimannya bahkan sebelum Abel mengetahui seperti apa fisik & penampilan Heru. Kali ini Abel melihatnya, melihat dengan kedua matanya sosok yang selama ini ia rindukan. Lamunan Abel buyar setelah mendengar dering handphone yang berbunyi nyaring memekak telinganya yang ternyata adalah milik Eka. Tak lama setelah menerima telephone Eka pamit dan memberi berbagai alasan untuk meninggalkan aku & Heru.
Sepanjang obrolan Heru bercerita panjang lebar, entah tentang apa sementara Abel hanya tertunduk malu, lidahnya kelu, seluruh tubuhnya serasa kaku. Bahkan Abel tidak mampu menatap mata Heru yang sejak tadi memperhatikannya. Melihat hari beranjak malam Heru bermaksud mengantar Abel pulang ke rumah tetapi maksud baik Heru rupanya ditolak halus oleh Abel dengan memberi 1000 macam alasan agar Heru enggan mengantarnya tapi niat Heru rupanya sudah kekeuh alias tidak dapat diganggu gugat terpaksalah Abel menurut. Padahal Abel khawatir dengan reaksi Ayahnya yang sangat keras wataknya tapi apa daya Heru mendesak sampai Abel tak bisa berkata apa pun selain menganggukkan kepalanya.
Ketika sampai di rumah Heru berpamitan dengan kedua orang tua Abel. Diluar dugaan reaksi orang tua Abel justru sangat ramah, itulah pertama kali Abel melihat Heru pria yang selama ini selalu menemani malam-malam Abel yang sepi. Padahal Abel sudah berpikir “jangan-jangan pria yang selalu menelphone setiap malam adalah hantu” Abel meringis sendiri. Semalaman Abel tak mampu memejamkan matanya, ia gelisah terbayang Heru, meski wajah Heru jauh dari tampan dan hanyalah pria sederhana tetapi justru kesederhanaan dan kealimannya yang membuat Abel terkagum-kagum pada sosok Heru.
Semenjak pertemuannya Abel & Heru kian akrab bahkan orang tua mereka juga sudah saling mengenal. Sejak mengenal Heru sifat Abel mulai berubah menjadi lebih baik, sudut pandang tentang lelaki yang buruk pun berangsur – angsur hilang bahkan Abel semakin feminim saja. Abel merasa hubungannya dengan Heru sudah melebihi seorang sahabat tetapi yang membingungkan Heru tak pernah membahas apa pun tentang perasaannya. Sejak semester akhir kuliah mereka lose contact, Abel serius menggarap skripsinya sementara “entah menghilang kemana si Heru”, sewot Abel yang tengah kesal.
Hari wisuda sudah besok tapi Heru tak ada kabar juga. Setiap kali Abel berusaha menghubungi handphone jadul milik Heru selalu tidak aktif padahal Abel ingin memberitahu Heru bahwa dia sudah berhasil dan ingin menanyakan bagaimana dengannya “apa dia berhasil? tidak mungkin dia tidak berhasil karena seingatnya Heru termasuk anak yang pandai, tapi kemana saja dia?”, pikirnya sambil menekan nomor handphone Heru yang tak jua ada jawaban. Pandangannya tertuju pada hadiah-hadiah dari keluarganya yang belum ia buka. Ia segera bergegas membukanya satu persatu mulai dari satu setel kebaya yang cantik berwarna merah muda dari ibu, sebuah laptop dari Ayah, Handphone baru dari kakak hingga sebatang coklat dari adiknya yang masih duduk di bangku SMP.
Semalaman Abel bertanya-tanya kemana perginya Heru lelaki yang telah dikenalnya hampir 3 tahun itu mengapa ia menghilang bagai ditelan bumi. Tak lama kemudian ia beranjak dari tempat tidur kemudian pergi mengambil air wudhu, melakukan sholat tahajud seperti biasanya. Hatinya tenang dan damai sekali hingga ia dapat tidur nyenyak.
Keesokan harinya Abel segera bersiap tak ingin terlambat ke acara wisudanya yang tepat pada hari ini, memakai kebaya merah muda hadiah dari ibu dipermanis dengan kreasi jilbab sebagai penutup mahkotanya. Mulai hari itu Abel memantapkan hati untuk memakai jilbab tanpa paksaan atau permintaan siapa pun. Ia tampak anggun hari itu berbeda dengan biasanya.
Sampai acara wisuda selesai Abel tak bertemu dengan Heru dan sepanjang perjalanan pulang Abel tak henti memikirkan pria pujaan hatinya hingga tak disadari ia menitik airmatanya. Rupanya ibu memperhatikan Abel yang sejak tadi termenung.-
- “Kenapa Abel sedih dihari yang seharusnya berbahagia?”, Tanya Ibu
- “Uuumm… gak kog, Bu. Abel gak apa-apa cuma kenapa Heru gak ada kabar yaa…”, Jawab Abel
- “Nanti kamu akan tau setelah kamu bertemu dengan Heru. Dia sudah menunggu kamu di rumah, sayang”, Tutur ibunya sembari tersenyum
Tak pelak Abel kaget mendengar ibunya berbicara seperti itu membuatnya bertanya-tanya. Tak sabar Abel untuk segera sampai dirumah bertemu dengan pujaan hatinya dan benar saja Heru ada di ruang tamu sederhana miliknya. Senang, sedih, haru dan kesal menguasai hatinya. Abel berlari ke arah Heru kemudian memeluknya erat, tak mau perduli lagi pada sekeliling.
- “Eeehh… kita bukan muhrim lho”, bisik Heru lembut
- “Uuuupss… lupa”, jawab Abel sambil mengusap air matanya kemudian tersenyum
- “Aduh, pakai kerudung jadi semakin manis”, goda Heru
Abel tersipu mendengarnya. Heru menceritakan kemana saja dirinya selama ini ternyata Heru giat membuat skripsi dan sibuk mengikuti test pekerjaan yang dia harapkan selama ini. Dia menjadi dosen di salah satu kampus ternama. Bertambah kagum dan lega Abel mendengarnya. Sedang asyik bercengkrama alangkah kagetnya Abel ketika Heru memberinya sebuket bunga, mengungkapkan perasaannya yang selama ii ia simpan untuk Abel dan mengajaknya menikah di depan kedua keluarga mereka. Abel hampir pingsan, dengkulnya lemas mendengar ajakan Heru yang sangat mengejutkan itu. Ditatapnya lekat mata Heru yang terlihat begitu sungguh-sungguh dan dengan mantap Abel menganggukkan kepala tanda setuju. Semua tertawa melihat Abel yang tersipu sekaligus lega.
Mereka kemudian menikah dan hidup bahagia bersama 2 anak yang diberi nama Muhammad Farhan dan Anandita Setiadi.
~ Selesai ~