Cinta Di ujung Telephone 2

Setelah hampir seharian Abel berjalan-jalan di salah satu pusat perbelanjaan bersama Eka kawan satu kampusnya, Abel memutuskan untuk segera pulang karena kakinya yang sudah tak karuan rasanya. Abel sebenarnya kurang suka pergi shopping, tak seperti wanita kebanyakan karena tau sendiri kaum hawa kalau sudah shopping lamanya minta ampun dan bikin kaki pegal-pegal tapi karena Abel sedang sumpek tak ada pilihan lain baginya. Eka membujuk Abel untuk makan dulu sebelum pulang ke rumah, berhubung cacing-cacing yang ada di perut Abel sudah mulai berteriak-teriak maka mereka sepakat untuk makan di salah satu restoran Amerika.

Sejak mereka memutuskan untuk makan sebelum pulang diperhatikannya Eka tak pernah berhenti menatap lekat handphone kesayangannya. Tiba-tiba ada sesosok pria yang menghampiri kami kemudian menyapa Eka. Mereka bercakap-cakap layaknya kawan akrab tak lama kemudian Eka memperkenalkan kawannya kepada Abel.

Wajah Abel pucat, matanya terbelalak dan degup jantungnya tak karuan mendengar nama yang disebut laki-laki itu, Heru… ya laki-laki yang selalu menelphonenya setiap malam. Dialah Heru, pria yang selama ini diam-diam dicintai Abel karena kealimannya bahkan sebelum Abel mengetahui seperti apa fisik & penampilan Heru. Kali ini Abel melihatnya, melihat dengan kedua matanya sosok yang selama ini ia rindukan. Lamunan Abel buyar setelah mendengar dering handphone yang berbunyi nyaring memekak telinganya yang ternyata adalah milik Eka. Tak lama setelah menerima telephone Eka pamit dan memberi berbagai alasan untuk meninggalkan aku & Heru.

Sepanjang obrolan Heru bercerita panjang lebar, entah tentang apa sementara Abel hanya tertunduk malu, lidahnya kelu, seluruh tubuhnya serasa kaku. Bahkan Abel tidak mampu menatap mata Heru yang sejak tadi memperhatikannya. Melihat hari beranjak malam Heru bermaksud mengantar Abel pulang ke rumah tetapi maksud baik Heru rupanya ditolak halus oleh Abel dengan memberi 1000 macam alasan agar Heru enggan mengantarnya tapi niat Heru rupanya sudah kekeuh alias tidak dapat diganggu gugat terpaksalah Abel menurut. Padahal Abel khawatir dengan reaksi Ayahnya yang sangat keras wataknya tapi apa daya Heru mendesak sampai Abel tak bisa berkata apa pun selain menganggukkan kepalanya.

Ketika sampai di rumah Heru berpamitan dengan kedua orang tua Abel. Diluar dugaan reaksi orang tua Abel justru sangat ramah, itulah pertama kali Abel melihat Heru pria yang selama ini selalu menemani malam-malam Abel yang sepi. Padahal Abel sudah berpikir “jangan-jangan pria yang selalu menelphone setiap malam adalah hantu” Abel meringis sendiri. Semalaman Abel tak mampu memejamkan matanya, ia gelisah terbayang Heru, meski wajah Heru jauh dari tampan dan hanyalah pria sederhana tetapi justru kesederhanaan dan kealimannya yang membuat Abel terkagum-kagum pada sosok Heru.

Semenjak pertemuannya Abel & Heru kian akrab bahkan orang tua mereka juga sudah saling mengenal. Sejak mengenal Heru sifat Abel mulai berubah menjadi lebih baik, sudut pandang tentang lelaki yang buruk pun berangsur – angsur hilang bahkan Abel semakin feminim saja. Abel merasa hubungannya dengan Heru sudah melebihi seorang sahabat tetapi yang membingungkan Heru tak pernah membahas apa pun tentang perasaannya. Sejak semester akhir kuliah mereka lose contact, Abel serius menggarap skripsinya sementara “entah menghilang kemana si Heru”, sewot Abel yang tengah kesal.

Hari wisuda sudah besok tapi Heru tak ada kabar juga. Setiap kali Abel berusaha menghubungi handphone jadul milik Heru selalu tidak aktif padahal Abel ingin memberitahu Heru bahwa dia sudah berhasil dan ingin menanyakan bagaimana dengannya “apa dia berhasil? tidak mungkin dia tidak berhasil karena seingatnya Heru termasuk anak yang pandai, tapi kemana saja dia?”, pikirnya sambil menekan nomor handphone Heru yang tak jua ada jawaban. Pandangannya tertuju pada hadiah-hadiah dari keluarganya yang belum ia buka. Ia segera bergegas membukanya satu persatu mulai dari satu setel kebaya yang cantik berwarna merah muda dari ibu, sebuah laptop dari Ayah, Handphone baru dari kakak hingga sebatang coklat dari adiknya yang masih duduk di bangku SMP.

Semalaman Abel bertanya-tanya kemana perginya Heru lelaki yang telah dikenalnya hampir 3 tahun itu mengapa ia menghilang bagai ditelan bumi. Tak lama kemudian ia beranjak dari tempat tidur kemudian pergi mengambil air wudhu, melakukan sholat tahajud seperti biasanya. Hatinya tenang dan damai sekali hingga ia dapat tidur nyenyak.

Keesokan harinya Abel segera bersiap tak ingin terlambat ke acara wisudanya yang tepat pada hari ini, memakai kebaya merah muda hadiah dari ibu dipermanis dengan kreasi jilbab sebagai penutup mahkotanya. Mulai hari itu Abel memantapkan hati untuk memakai jilbab tanpa paksaan atau permintaan siapa pun. Ia tampak anggun hari itu berbeda dengan biasanya.

Sampai acara wisuda selesai Abel tak bertemu dengan Heru dan sepanjang perjalanan pulang Abel tak henti memikirkan pria pujaan hatinya hingga tak disadari ia menitik airmatanya. Rupanya ibu memperhatikan Abel yang sejak tadi termenung.-

- “Kenapa Abel sedih dihari yang seharusnya berbahagia?”, Tanya Ibu

- “Uuumm… gak kog, Bu. Abel gak apa-apa cuma kenapa Heru gak ada kabar yaa…”, Jawab Abel

- “Nanti kamu akan tau setelah kamu bertemu dengan Heru. Dia sudah menunggu kamu di rumah, sayang”, Tutur ibunya sembari tersenyum

Tak pelak Abel kaget mendengar ibunya berbicara seperti itu membuatnya bertanya-tanya. Tak sabar Abel untuk segera sampai dirumah bertemu dengan pujaan hatinya dan benar saja Heru ada di ruang tamu sederhana miliknya. Senang, sedih, haru dan kesal menguasai hatinya. Abel berlari ke arah Heru kemudian memeluknya erat, tak mau perduli lagi pada sekeliling.

- “Eeehh… kita bukan muhrim lho”, bisik Heru lembut

- “Uuuupss… lupa”, jawab Abel sambil mengusap air matanya kemudian tersenyum

- “Aduh, pakai kerudung jadi semakin manis”, goda Heru

Abel tersipu mendengarnya. Heru menceritakan kemana saja dirinya selama ini ternyata Heru giat membuat skripsi dan sibuk mengikuti test pekerjaan yang dia harapkan selama ini. Dia menjadi dosen di salah satu kampus ternama. Bertambah kagum dan lega Abel mendengarnya. Sedang asyik bercengkrama alangkah kagetnya Abel ketika Heru memberinya sebuket bunga, mengungkapkan perasaannya yang selama ii ia simpan untuk Abel dan mengajaknya menikah di depan kedua keluarga mereka. Abel hampir pingsan, dengkulnya lemas mendengar ajakan Heru yang sangat mengejutkan itu. Ditatapnya lekat mata Heru yang terlihat begitu sungguh-sungguh dan dengan mantap Abel menganggukkan kepala tanda setuju. Semua tertawa melihat Abel yang tersipu sekaligus lega.

Mereka kemudian menikah dan hidup bahagia bersama 2 anak yang diberi nama Muhammad Farhan dan Anandita Setiadi.

~ Selesai ~

Jodoh adalah Cermin Sifat Kita…

Weekend hari ini tidak seperti biasanya yang selalu aku isi dengan berjalan-jalan atau bersenang-senang. Kali ini Nisha, sahabat SMP yang sudah lama tak jumpa akan berkunjung ke rumahku tanpa pikir panjang aku pun mengiyakan karena sudah lama sekali tak jumpa.

Berbagai topik kami bahas bersama mulai dari curahan hati alias curhat sampai akhirnya  pada topik jodoh. Diusia yang sedang rawan-rawannya urusan jodoh cukup mengkhawatirkan juga apalagi aku sudah berikrar tidak akan pacaran lagi. Aku ingin langsung menikah saja seperti yang diajarkan agamaku. Tetapi menjalankannya tidak semudah yang ku pikir. Godaan akan lelaki yang mengajak aku berpacaran justru semakin banyak tetapi untunglah ikrarku dapat dijadikan alasan :P

Yang membuatku sangat tidak percaya diri adalah “apa mungkin aku yang serba minus ini mendapatkan seseorang yang alim & baik atau apa mungkin ada seseorang yang tiba-tiba datang melamarku tanpa proses pacaran?” pikiran-pikiran itu selalu berkecambuk di dada sampai terkadang menjadi bahan perenungan. Di saat aku menyampaikan kegelisahan dalam hati pada sobatku tiba-tiba aku seperti tertampar mendapati salah satu kalimatnya “kamu tau bahwa jodoh kita itu adalah cermin dari sifat kita? jadi sebelum kamu meminta lelaki yang baik, alim, dll perbaiki & percantiklah dulu dirimu” mendengar kata-kata itu aku terbelalak. Aku kaget bukan main bukan karena baru mendengar kata-kata tersebut tetapi entah perkataan itu begitu tertancap dalam hatiku sampai aku tidak mampu memejamkan mata semalaman.

Dalam perenungan semalaman itulah aku bertekad akan memperbaiki diri dan ternyata sangat sulit, tidak semudah tekad dan niatku yang dengan mudah aku ucapkan. Meski begitu aku tidak akan bergeming dari niat tulusku akhirnya aku memulai dengan hal yang dianggap orang sepele seperti menjaga air wudhu dan memulai sesuatu dengan Bismillah dan mengakhirinya dengan Alhamdulillah. Aku pernah membaca di salah satu buku bahwa berjuanglah sampai tetes darah penghabisan hingga satu saat nanti ketika amalmu dibacakan kamu akan tersenyum bukan menitikkan airmata yang sia-sia. Ayooo…. Semangatt!!! ^_^ V

Cinta Di ujung Telephone

Ada seorang gadis yang dibesarkan dalam keluarga yang sederhana. Gadis yang diberi nama Abel adalah anak kedua dari tiga bersaudara, perempuan satu-satunya. Abel di didik begitu keras oleh ayahnya sama seperti kakak & adik lelakinya hingga membentuk pribadi yang pendiam, tidak percaya diri dan tidak menyukai keramaian. Dia juga amat membenci laki-laki karena baginya laki-laki hanya makhluk egois, menyebalkan dan penindas kaum hawa. Rasa bencinya terus di bawa sampai ia remaja dimana kawan-kawannya sudah memiliki tambatan hati alias pacar. Abel justru tidak berminat dengan hal berbau pacaran. Bukan karena tak ada lelaki yang menyukainya tapi karena rasa takut & benci yang tak dapat di lenyapkan dari dalam hatinya membuat Abel tidak ingin dekat-dekat atau berhubungan dengan kaum lelaki jadi setiap lelaki yang mendekati Abel hanya ditanggapi dengan cuek dan ketus olehnya.  Meski begitu Abel memiliki khayalan yaitu menginginkan cinta sejati layaknya dongeng “cinderella” yang pernah ia tonton di televisi.

Sampai suatu ketika dia bermimpi kalau ia akan menjadi penyuka sesama wanita alias lesbong atau lesbi. Disitu akhirnya ia sadar bahwa rasa bencinya akan berakhir fatal bila tidak segera dikikis. Perlahan Abel mulai mencoba membuka diri, mengenal laki-laki dari sudut pandang yang berbeda dari biasanya. Perlahan justru ia mulai nyaman bergaul dengan laki-laki ketimbang perempuan karena baginya kawan perempuan tidak pernah menolong dengan semaksimal mungkin berbeda sekali dengan lelaki yang akan mengusahakan mati-matian untuk menolong. itu pendapat Abel. Abel berangsur-angsur menjadi gadis yang ceria, tidak lagi menjadi gadis yang tertutup seperti dulu. Di sela wajah juteknya selalu ada senyuman yang tersungging di bibirnya meski begitu pandangannya mengenai lelaki belum juga berubah.

Hingga suatu saat ada telephone yang mengaku sebagai kawan kampus Abel.  Abel tidak mengenal lelaki yang menelphonenya kala itu singkatnya mereka berkenalan dan sejak itu Heru, pemuda alim yang dikenalnya lewat telephone yang tidak pernah dilihat wujudnya hampir setiap malam selalu menelphone Abel dan saling bercerita layaknya kawan lama. Entah mengapa malam itu Abel menggigil dan keringatnya mengucur deras, seluruh badannya panas dingin mendengar suara Heru diujung telephone. Degup jantungnya tak beraturan hingga Abel pikir kalau ia terkena serangan jantung tetapi bukan. Bukan serangan jantung.

Ini pertama kali ia merasa yang demikian. Dan setelah itu Abel baru menyadari bahwa setiap ia berbicara dengan Heru maka ia akan merasa tak karuan. “inikah rasanya cinta”, pikir Abel sambil melamun tetapi lamunannya dikejutkan oleh dering telephone. Ternyata telephone tersebut dari Eka kawan kampusnya yang mangajaknya jalan-jalan tanpa pikir panjang Abel mengiyakan saja karena pikirannya yang sumpek memikirkan laki-laki yang misterus. Bersambung…

<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –> Ada seorang gadis yang dibesarkan dalam keluarga yang sederhana. Gadis yang diberi nama Abel adalah anak kedua dari tiga bersaudara dan ia adalah perempuan satu-satunya. Abel di didik begitu keras oleh ayahnya sama seperti kakak & adik lelakinya hingga membentuk pribadi yang pendiam, tidak percaya diri dan tidak menyukai keramaian. Dia juga amat membenci laki-laki karena baginya laki-laki hanya makhluk egois, menyebalkan dan penindas kaum hawa. Rasa bencinya terus di bawa sampai ia remaja dimana kawan-kawannya sudah memiliki tambatan hati alias pacar. Abel justru tidak berminat dengan hal berbau pacaran. Bukan karena tak ada lelaki yang menyukainya tapi karena rasa takut & benci yang tak dapat di lenyapkan dari dalam hatinya membuat Abel tidak ingin dekat-dekat atau berhubungan dengan kaum lelaki jadi setiap lelaki yang mendekati Abel hanya ditanggapi dengan cuek dan ketus olehnya.  Meski begitu Abel memiliki khayalan yaitu menginginkan cinta sejati layaknya dongeng “cinderella” yang pernah ia tonton di televisi.Sampai suatu ketika dia bermimpi kalau ia akan menjadi penyuka sesama wanita alias lesbong atau lesbi. Disitu akhirnya ia sadar bahwa rasa bencinya akan berakhir fatal bila tidak segera dikikis. Perlahan Abel mulai mencoba membuka diri mencoba untuk mengenal laki-laki dari sudut pandang yang berbeda dari biasanya. Perlahan justru ia mulai nyaman bergaul dengan laki-laki ketimbang perempuan karena baginya kawan perempuan tidak pernah menolong dengan semaksimal mungkin berbeda sekali dengan lelaki yang akan mengusahakan mati-matian untuk menolong. itu pendapat Abel. Sifatnya menjadi berubah menjadi gadiscuek & ceria. Ia akan selalu tersenyum meski hatinya sedang menangis.Hingga suatu saat ada telephone yang mengaku sebagai kawan kampus Abel.  Abel tidak mengenal lelaki yang menelphonenya kala itu singkatnya mereka berkenalan dan sejak itu Heru, pemuda alim yang dikenalnya lewat telephone yang tidak pernah dilihat wujudnya hampir setiap malam selalu menelphone Abel dan saling bercerita layaknya kawan lama. Entah mengapa malam itu Abel menggigil dan keringatnya mengucur deras, seluruh badannya panas dingin mendengar suara Heru diujung telephone. Degup jantungnya tak beraturan hingga Abel pikir kalau ia terkena serangan jantung tetapi bukan. Bukan serangan jantung.

Ini pertama kali ia merasa yang demikian. Dan setelah itu Abel baru menyadari bahwa setiap ia berbicara dengan Heru maka ia akan merasa tak karuan. “inikah rasanya cinta”, pikir Abel sambil melamun tetapi lamunannya dikejutkan oleh dering telephone. Ternyata telephone tersebut dari Eka kawan kampusnya yang mangajaknya

Cantik Luar Dalam…

Hari ini aku tersentak mendengar seorang anak berkata pada temannya “kata ibuku, cantik itu dilihat dari sini (sambil menunjuk ke dada) bukan disini (sambil menunjuk ke wajah)”. Bocah itu mengingatkan aku bahwa selama ini kita (terutama orang dewasa) hanya memoles wajah dengan make up supaya terlihat lebih sempurna tapi pernahkah kita mencoba untuk mempercantik hati???

Benar bahwa kecantikan hati tidak dapat dilihat secara fisik seperti kecantikan pada wajah namun dapat terpancar melalui sikap seseorang. Seseorang yang rajin beribadah tentu memiliki perbedaan dengan seseorang yang tidak atau jarang beribadah baik perkataan atau tingkah laku mereka. Aku jadi malu sendiri ketika mendengar kata-kata nan polos yang meluncur dari bibir anak kecil yang masih lugu tersebut.

Meski begitu kecantikan pada wajah bukan berarti tidak penting, kita perlu juga mensyukuri dan memelihara dengan perawatan yang alami bukan merubah apa yang sudah diberikan dan tentu saja tanpa melupakan kecantikan hati juga dengan begitu cantik luar dalam khan… so kapan lagi? Mulailah dari sekarang :)

Jangan Panggil Aku Monyet

Gorontalo (ANTARA News) – Tangan-tangan kecil mengkerut itu menuliskan sebaris kalimat “nama saya Septiningsih Abdul, cita-cita ingin disayang semua orang” dengan untaian huruf yang berjejer rapi di secarik kertas.
Boleh jadi Septi, nama akrabnya, memang hanya mencita-citakan satu hal dalam hidupnya yakni diterima dan dicintai semua orang di sekelilingnya dengan kondisi tubuh yang serba kekurangan. Rambut lebat nyaris menutupi sekujur tubuh bocah berusia sepuluh tahun ini.
Tak hanya rambut, yang membuat orang seketika melihatnya mirip primata karena rahang atas dan bawahnya yang menonjol, hidung pesek berbulu halus, kelopak mata melebar ke dahi serta telinga yang hampir tak memiliki lubang.


Awalnya pasti kaget, namun bila sudah berbincang dan menatapnya sekian lama, pandangan aneh terhadap bocah inipun perlahan akan luntur.
“Pertama kali Septi keluar dari kandungan ibunya, saya sangat terkejut dan anak itu hampir jatuh dari tangan saya,” ujar Ija, bidan desa yang membantu persalinan ibu Septi, Fatma Nusi, sepuluh tahun lalu di Desa Tilangobula, Kecamatan Suwawa Timur, Kabupaten Bone Bolango.
Dengan keanehan yang dimiliknya, tak pelak kehadiran Septi ke dunia menghebohkan warga setempat, yang kemudian mengkaitkannya dengan kutukan.
Pandangan sebelah mata, cemooh, gunjingan dan bahkan rasa simpati yang datang dari tetangga pun merupakan hal yang biasa diterima keluarganya.
Bukannya tak pernah putus asa, namun bagi Fatma penyesalan dan air mata rasanya tak pantas dikucurkan atas kehadiran Septi yang hanya berbeda fisik dengan manusia ciptaan Tuhan lainnya.

Ucapan Jadi Kenyataan
Kamu minta buah terus, kayak mengandung bayi monyet saja“. Itu kalimat yang dilontarkan ayah Septi, Yusni Abdul (35) saat Fatma mengandung putri keduanya itu.
Kalimat yang diibaratkan sebagai kutukan oleh ayah Septi yang kesal karena istrinya selalu mengidamkan buah-buahan itu, kemudian diyakini sebagai penyebab anaknya terlahir dengan wajah layaknya seekor kera.
“Mungkin ucapan itu didengar Tuhan dan akhirnya menjadikannya kenyataan sebagai cobaan bagi saya dan suami,” ujar Fatma dengan nada sendu, mengenang rasa pedih saat hamil.
Tiga tahun sejak Septi dilahirkan, Fatma terpaksa membesarkan ketiga anaknya setelah ditinggal cerai suaminya yang malu karena memiliki anak dengan fisik yang berbeda dengan anak normal lainnya.
Meski hanya sebagai pembantu rumah tangga, Fatma membesarkan Septi dengan penuh kasih sayang, tanpa membedakannya dari kedua saudaranya.
Rasa pedih kian menusuk kalbu Fatma, ketika melihat putrinya sejak usia empat tahun kadang-kadang berjalan merangkak dan tampak lincah seperti kera.
“Saya sering memarahinya kalau berjalan merangkak. Takutnya akan jadi kebiasaan dan orang-orang akan yakin dia memang hampir seperti monyet,” ujar Fatma.
Alhasil, usaha Fatma untuk menghilangkan kebiasaan anaknya itupun berhasil. Septi kini nyaris tak pernah lagi berjalan merangkak, sehingga tak ada lagi perilakunya yang dianggap aneh.
Meski memiliki seorang anak yang abnormal dan hidup sebagai orang tua tunggal, namun tak pernah terpikirkan di benakknya untuk membunuh atau membuang putrinya itu, seperti yang marak dilakukan oleh orang tua putus asa belakangan ini.
“Memang berat menjalani semuanya, namun saya yakin Septi hadir dalam kehidupan saya untuk melihat sebesar apa sabar dan kasih sayang terhadapnya,” kata Fatma.

Tetap Sekolah
Septi jauh lebih beruntung. Ia tak kehilangan keceriaan pada masa kanak-kanaknya dan masih mengenyam pendidikan formal dengan hasil banting tulang ibunya yang juga sebagai buruh cuci keliling.
Kini ia duduk di bangku kelas dua Sekolah Dasar Dumbaya Bulan, yang berjarak sekitar tiga kilometer dari rumahnya yang terbalut anyaman bambu itu.
“Septi sempat tinggal kelas waktu di sekolah lama. Ia mengaku tertekan karena diejek teman-temannya,” kata salah seorang guru Septi, Elvin Adam.
Meski bocah itu tak tergolong juara kelas, namun Septi adalah siswi yang mandiri dalam mengerjakan tugas serta tes ujian alias anti nyontek.
Bahkan, angka delapan dan sembilan kerap menghiasi raport Septi untuk mata pelajaran Agama Islam dan olahraga.
“Septi paling suka lomba lari, selalu jadi juara. Kata Pak Guru, kelak saya bisa jadi atlit hebat dan bisa jalan-jalan ke Jakarta ,” ujar Septi dengan polosnya.
Di sekolah itu, ia mengaku bisa lebih berbaur dengan semua temannya, kendatipun pada awalnya juga harus membiasakan diri dengan tatapan aneh dari orang disekelilingnya.
Anak lincah itu justru menuai perhatian berlebih dari gurunya, karena dianggap lebih membutuhkan banyak kasih sayang dibanding anak didik lain yang normal.

Kelainan Genetik?
Tak ada yang tahu kenapa Septi terlahir demikian.
Mungkin sebentar lagi bocah berambut panjang itu akan menjadi obyek penelitian oleh sejumlah ilmuwan.
Terlebih, Departemen Kesehatan RI menginstruksikan segera membawa Septi ke Jakarta , untuk diteliti apa yang menjadi penyebab kelainan fisik anak yang dikenal periang itu.
“Untuk sementara ini, Depkes akan meneliti dulu apakah kelainan ini disebabkan faktor genetik atau bukan,” kata Kepala Pusat Pemeliharaan Kesehatan Depkes RI , Cholik Masulili.
Penelitian ini bisa jadi akan menjadi temuan baru dalam ilmu sains, mengingat kasus seperti yang dialami Septi merupakan yang pertama di Indonesia .
Tawaran dari Depkes ini pun diterima dengan senang hati oleh Septi dan keluarganya.
Ibunya memang tak berharap wajah Septi bisa seperti anak normal lainnya, namun ia punya harapan besar bahwa putri kecilnya itu punya masa depan yang lebih cerah setelah ditangani sejumlah dokter ahli dan peneliti nanti.
“Kalau wajah diubah itu rasanya tak mungkin lagi, yang penting rambut di badannya bisa hilang itu sudah lebih dari cukup,” harap Fatma.
Sementara bagi sang anak, rencana untuk ke Jakarta itu sudah sangat dinanti, dengan harapan saat balik nanti ia punya segudang cerita buat teman sepermainannya di desa.
Setidaknya, kata Septi, ia bisa mewujudkan impiannya untuk jalan-jalan ke Jakarta dan naik pesawat.
Lebih dari itu, hanya satu yang paling diinginkan Septi, “Jangan panggil saya monyet!” katanya. (*)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.